Ilmu Pengetahuan di Universitas

Pidato itu merupakan komponen dari rangkaian seremonial penghargaan yang diberi terhadap GM sebagai insan berdedikasi dalam bidang kebudayaan. Mesti diakui, kampus atau universitas mulanya didirikan sebagai upaya dalam pelaksanaan mencari kebenaran dengan simpulan dalil yang disebut sebagai “ilmu pengetahuan”.

Hampir segala bermuara pada pemenuhan keperluan kapitalis. Universitas yang kapabel menarik ketertarikan mahasiswa terbanyak akan dipertahankan, sementara yang sebaliknya akan dihapus atau dinonaktifkan. Ukuran keberhasilan kemudian dihitung secara kuantitaif dengan melalaikan kwalitas atau kualitas. Dikotomi Mahasiswa jurusan ilmu eksak (ilmu pasti), tidak lagi penting menerima pembelajaran (kuliah) ilmu sastra, musik, teater atau seni.

Malah sebaliknya, mahasiswa sastra, musik, humaniora dan sejenisnya seolah tidak lagi membutuhkan ilmu eksak semacam ekonomi, matematika, fisika dan kedokteran. Hal ini mengakibatkan metode berdaya upaya mahasiswa yang terpenggal. Mereka tidak lagi saling mengetahui untuk menjelajah cantik dan kayanya dunia ilmu pengetahuan, sebab menganggap yang lain tidak lebih bagus dari apa yang ditekuninya, dalam kacamata kebudayaan hal ini disebut etnosentris.

Mahasiswa dengan demikian akan spesialis di bidangnya, melainkan akan kehilangan dari apa yang disebut sebagai “empati”. Oleh sebab itu, di hari ini kita banyak memandang friksi-friksi yang frontal pun cenderung anarkis antar mahasiswa lintas jurusan dan bidang ilmu. Keberadaan dihasilkan dengan kekerasan, demonstrasi dan ancaman.

Belum lagi bagaimana pemerintah atas nama negara, melaksanakan evaluasi menurut atas ukuran-ukuran yang kuantitatif. Universitas besar akan diguyur dana penelitian berlebih, sementara universitas (kampus) kecil akan menerima dana penelitian minim. Dana penelitian tidak ubahnya proyek yang mendatangkan profit melimpah.

Masyarakat jarang merasakan buah hasil penemuan-penemuan universitas kecuali pro kontra atas kasus-kasus aturan (korupsi, anarkisme) yang mencuat di layar kaca via berjenis-jenis kabar. Ilmu pengetahuan menjadi statis, menara gading yang tidak terbaca oleh publik. Universitas kemudian kian mengekalkan kasta dalam kehidupan bermasyarakat. Deretan gelar menjadi gelanggang pameran sekalian misi narsistik dan penyombongan diri. Kategori yang demikian dilabeli dengan nama “kaum terdidik”, sementara lainnya merupakan “tidak terpelajar”.

Aku mengapresiasi kerendahan hati GM di forum itu, dengan kepala tegak menyebut diri sebagai “seorang yang tidak terdidik alias berasal dari dunia ilmiah, sebagai seorang yang secara serabutan bersentuhan dengan lingkungan akademis”, melainkan dia berusaha memberi donasi pemikiran sekalian pembetulan dan kritik bagi universitas di negeri ini.