Mahasiswa Jerman yang Membangun Asrama Sendiri

Banyak mahasiswa di beraneka kota di Jerman tidak cakap membayar sewa ruko daerah tinggal. Dilema ini mensupport sebuah sekelompok mahasiswa mengajukan solusi konstruktif bagi diri mereka sendiri.

Sebuah bangunan besar berbahan kayu berdiri di tanah lapang tersembunyi di bekas rumah sakit pasukan tempur Amerika Serikat. Lokasi hal yang demikian berada di kota Heidelberg, di pinggiran Jerman.

Komplit dengan jendela dan perabotan, bangunan seluas 14 meter persegi itu sekilas kelihatan seperti sewa gudang tanaman daripada daerah tinggal.

Tetapi itu yakni prototipe asrama empat lantai khusus mahasiswa. Bangunan itu yakni salah satu pertolongan untuk si kecil-si kecil muda yang terjebak dalam krisis ketersediaan perumahan di Jerman.

Seperti banyak kota lain di semua dunia, Heidelberg berjibaku menyediakan permukiman bagi mahasiswa dan pekerja muda. Kondisi ini menguntungkan bagi pasar properti, walaupun di satu sisi terjadi krisis perumahan.

Semenjak 2010, harga sewa daerah tinggal di kota itu meningkat nyaris 30%. Bagi mahasiswa, yang sering berbagi sewa dengan kawan-kawan mereka, uang sewa itu berimbang US$492 (Rp7 juta) per bulan.

Dalam masukan menggenjot ketersediaan daerah tinggal untuk menuntaskan krisis properti, pemerintahan di bawah Kanselir Jerman, Angela Merkel berkomitmen membangun 1,5 juta flat di sebelum akhir jangka waktu keempat kepemimpinannya tahun 2021.

Dihadapkan pada harga sewa yang meroket di kota barat kekuatan Jerman, 25 mahasiswa menuntaskan keadaan sulit itu secara swadaya. Mereka memastikan untuk membangun sendiri asrama mereka yang akhir-akhir ini dikasih nama Collegium Academicum.

“Kami berkeinginan mewujudkan hunian relatif murah di mana para mahasiswa dapat tinggal dan mencapai pengajaran bersama,” kata mahasiswa psikologi sekalian pimpinan proyek asrama dan sewa rumah.

Energi tarik bagi mahasiswa internasional
Didirikan tahun 1386, Universitas Heidelberg yakni perguruan tinggi tertua di Jerman. Universitas ini masuk tiga besar kampus terbaik di Jerman dan di peringkat ke-47 dalam daftar perguruan tinggi terbaik di dunia.

Tiap-tiap tahun, jumlah mahasiswa asing yang masuk ke kampus itu bertambah. Ketika ini seidaknya 39 ribu dari sempurna 160 ribu penduduk Heidelberg yakni mahasiswa di universitas hal yang demikian.

Estetika alam dan lanskap pinggiran kota Heidelberg juga menarik kedatangan orang asing. Mengacu data legal pemerintah lokal, beberapa besar pendatang dalam sebagian tahun terakhir berasal dari China, Italia, Rumania, India, dan Polandia. Mereka berusia antara 18 dan 30 tahun.

Dibandingi mahasiswa di Amerika Serikat dan Inggris, peserta perguruan tinggi di Jerman mempunyai lebih banyak profit finansial.

Pada 2014, semua negara komponen Jerman menghapus tarif masuk kampus bagi mahasiswa strata satu. Artinya, bagus mahasiswa lokal ataupun internasional di universitas negeri bisa menimba ilmu secara cuma-cuma.

Beberapa besar mahasiswa membayar tarif yang jumlahnya minim tiap semester untuk menutup kebutuhan administratif.

Lebih banyak permintaan daripada penawaran
Musim salju yakni jangka waktu paling kompleks bagi para mahasiswa di Heidelberg untuk menerima daerah tinggal.

Inovasi itu dibongkar Studierendenwerk, unit layanan mahasiswa di Universitas Heidelberg yang menyediakan akomodasi asrama dalam jumlah terbatas.

“Pada jangka waktu itu, banyak mahasiswa kesusahan menemukan daerah untuk tinggal, terlebih akomodasi yang relatif murah,” kata Tanja Modrow, pimpinan Studierendenwerk.

Oleh sebab itu, banyak mahasiswa yang memilih tinggal jauh dari sentra kota daripada bergelut dengan tarif hidup yang tinggi.

Dengan pendekatan hijau, sekarang kian banyak alumni Heidelberg yang tinggal di wilayah sekitar kampus untuk mengawali karier dan rumah tangga. Tapi ini kian membikin permintaan dan tawaran hunian berat sebelah.

Di Baden-Wrttemberg, negara komponen di mana Heidelberg berada, Partai Hijau yang berkebijakan ramah lingkungan sekarang menerima 32% warga, berdasarkan kajian institusi survei.

 

Pertambahan hunian
Mahasiswa Universitas Heidelberg bukan satu-satunya yang bergelut dengan keadaan sulit hunian relatif murah di Jerman.

Indeks harga terbaru yang dianalisis Institut Ekonomi Jerman menampilkan, tarif sewa daerah tinggal mahasiswa di kota-kota pengajaran di Jerman meningkat antara 9,9% sampai 67,3% seak 2010.

April lalu, ribuan orang turun ke jalur Berlin menuntut pemerintah mengatasi persoalan ini.

Berlin, ibu kota Jerman, salah satu pasar hunian paling berkembang di dunia, tidak lama lagi bakal menggelar referendum untuk masukan perampasan aset negara untuk kebutuhan hunian publik.

Mahasiswa semua dunia dalam tekanan
Keterbatasan hunian dan tarif sewa tinggi yakni keadaan sulit yang juga dihadapi kota-kota daerah perguruan tinggi.

Di Hobart, ibu kota negara kepulauan Tasmania di Australia, Universitas Tasmania baru-baru ini membeli hotel bintang tiga untuk menolang mahasiswa mereka yang sukar menerima daerah tinggal.

Jumlah turis yang meningkat dan ekspansi platform persewaan hunian Airbnb disebut berperan dalam menurunnya ketersediaan hunian di Hobart.

Sementara itu di wilayah West Coast, AS, di Universitas California, Berkeley, sebuah program memasangkan alumni kampus dengan penisuan yang mempunyai ruangan lebih di rumah mereka.

Sebagai gantinya, para mahasiswa menolong generasi tua itu bersosialisasi, membersihkan rumah, dan juga membayar sewa tidak lebih dari Rp14 juta per bulan. Nominal itu kurang dari satu pertiga rata-rata harga sewa apartemen di Berkeley.

Kembali ke Heidelberg, konstruksi asrama mahasiswa akan langsung dikerjakan. Para penyewa pertama diinginkan bisa menempati hunian itu permulaan 2021.

Para mahasiswa yang hendak tinggal di asrama itu akan via seleksi, sebagaimana yang digunakan hunian mahasiswa lain di Jerman, yang diketahui dengan singkatan WGs.

“Kami berkeinginan gabungan pandangan baru dan latar akhir-akhir ini,” kata Kuhn. “Kami berkeinginan mahasiswa dari beraneka bidang studi dan gagasan politik,” tuturnya.

 

 

 

Info Lainnya Kunjungi : https://mumsandbabes.co.id